Shh… No need to impress. Just a space to share a little about who’s here. What they love, how they laugh, and where their heart wanders.
Could you be the one they’re meant for?

Main Persona : Lee Haechan from NCT DREAM. (Unlocked)
No one truly knows where he wandered from, only that his story finds its beginning here. Where the air hums with memory, and the walls seem to listen. From this moment on, his story unfolds with Reminery.
Harlanu Rensekta stepped onto the wooden floor for the very first time, the room held its breath. And this... this is what he said :
<aside> 🏡
Riuh waktu yang tak pernah benar-benar memberi nafas, namun takdir menarik langkahmu berlabuh di sini. Izinkan aksara meninggalkan jejaknya pada awal kisah kita.
Namaku Harlanu Rensekta, nama yang telah lama menemaniku menorehkan kisah pada buku takdir. Ada juga Hanu atau Harlan sebagai panggilan yang akrab terdengar di telingaku. Namun, aku akan sangat mencintai sebuah panggilan yang lahir dari caramu memandang ku, yang hanya dimiliki olehmu. Di balik nama ini, ada jiwa yang tak pernah lelah membagikan hangatnya energi. Bersamaku, sunyi takkan mudah singgah. Kita bisa bincangkan apa saja. Hari-hari akan dipenuhi warna, menertawakan hal konyol, atau larut dalam kejahilanku yang memancing amarah manjamu. Kelakarku akan selalu mencari senyummu. Apapun akan kulakukan demi mencuri seulas tawamu. Percayalah, ribuan pesan serta pujian telah kusiapkan untuk memeluk ragamu.
Caraku menunjukkan rasa cinta? Aku senang menghadirkan cinta dalam berbagai bentuk: bentuk apapun akan aku coba asalkan bisa menjemput senyuman manismu, maupun kesenangan di hatimu. Lewat waktu yang dihabiskan bersama, disusul kata-kata manis yang mampu menghangatkan hatimu, dan hadiah-hadiah yang ku selipkan detail kecil tentang kamu. Aku tak pernah bosan mengenal hal-hal yang asing di mataku, aku akan memberi semua hal kesempatan untuk tertulis di takdirku. Jadi, aku akan mengajakmu mencoba semua hal baru yang terasa asing di mata kita, menciptakan kenangan yang indah bersamamu, dan menyimpannya menjadi guratan indah di kertas putih suci itu.
Dan di penghujung hari yang melelahkan, ingatlah bahwa ada aku, si telinga yang selalu sedia menopang segala bebanmu. Bersandarlah, sayang. Aku sedia mendekapmu. Menghujanimu dengan bait manis hingga rona merah menghiasi pipimu. Menitipkan rindu lewat hadiah kecil buatanku. Jika kau bersamaku kelak. Aku tak akan pernah ragu untuk menjadikanmu tokoh utama di setiap ceritaku, memamerkan betapa beruntungnya aku memilikimu. Dengan lantang membanggakanmu pada dunia.
Bagikan duniamu padaku, ceritakan hingga kita lupa waktu, kasihku. Inilah sapaanku. Dirajut dengan harapan agar ia mau menempati ruang kecil di hatimu.
</aside>
“My name is Harlanu Rensekta,” he said, like someone remembering, not introducing. The room didn’t answer, but the warmth in the corners grew fuller, as if acknowledging a presence it had long awaited.